Koneksi Antar Materi Modul 2.3

posted in: Koneksi Antar Materi | 0

Assalamuálaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

2.3.a.8 Koneksi Antar Materi Modul 2.3 Oleh Hipni Rohman SMPN 3 Saketi CGP Angkatan 9 – Alhamdulillahirobbil Alamiin setelah beberapa bulan saya mengikuti Pendidikan Guru Penggerak sampai dengan Modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan yang mudah-mudahan Bisa bermanfaat bagi saya dan juga dunia Pendidikan pada umumnya.

PENGALAMAN/MATERI PEMBELAJARAN YANG BARU SAJA DIPEROLEH

Coaching Untuk Supervisi Akademik

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999).

Tujuan dari coaching adalah menuntun coachee menemukan gagasan / ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki dan membangun kemitraan yang setara antara coach dan coachee dan coachee sendiri yang mengambil keputusan. Coach hanya menghantarkan melalui mendengarkan aktif dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong coachee membuat keputusannya sendiri. Pendekatan komunikasi yang digunakan dalam proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah percakapan yang penuh kasih dan juga rasa persaudaraan. Dalam pelaksanaan coaching seorang coach harus memperhatikan beberapa paradigma coaching yaitu :

1. Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan;
2. Bersikap terbuka dan ingin tahu;
3. Memiliki kesadaran diri yang kuat;
4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan

Selain ke-empat paradigma di atas seorang coach juga harus memperhatikan beberapa prinsip ketika melakukan coaching yaitu :

  1. Kemitraan – Dalam coaching, posisi coach terhadap coachee-nya adalah mitra. Yang berarti setara, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah.
  2. Proses Kreatif – Proses kreatif ini dilakukan melalui percakapan, yang dua arah,  memicu proses berpikir coachee
    dan memetakan dan menggali situasi coachee untuk menghasilkan ide-ide baru.
  3. Memaksimalkan Potensi – Untuk memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan, yang paling mungkin dilakukan dan paling besar kemungkinan berhasilnya. 

Menurut Costa dan Garmston (2016) menyampaikan bahwa kita bisa memberdayakan guru melalui coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi, yang interaksinya bergantung kepada tujuan dan hasil yang diharapkan. Namun, posisi awal yang kita ambil adalah posisi sebagai seorang coach, sebelum kita mengetahui tujuan dan hasil yang diharapkan oleh guru yang akan kita berdayakan. Oleh sebab itu, prinsip dan paradigma berpikir coaching ini perlu selalu ada sebelum kita memberdayakan seseorang. Dalam melakukan coaching ada beberapa kompetensi inti yang harus dimiliki oleh coach yaitu :

1. Kehadiran Penuh/Presence
2. Mendengarkan Aktif
3. Mengajukan Pertanyaan Berbobot

Selain itu seorang coach dalam melakukan coaching harus mampu mendengarkan aktif dengan RASA sebagaimana yang diperkenalkan oleh Julian Treasure: RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask.

R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee.

A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee.

S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama.

A (Ask/Tanya) mengajukan pertanyaan berbobot.

Coaching dengan menggunakan Alur TIRTA

TIRTA merupakan akronim dari Tujuan umum, Identifikasi, Rencana Aksi, dan TAnggung jawab 

  1. Tujuan umum – Pada tahap awal kedua pihak antara coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung dan Idealnya tujuan ini datang dari coachee.
  2. Identifikasi – Coach melakukan identifikasi penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi coaching.
  3. Rencana Aksi – Pada tahap ini coach mengembangkan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat coachee
  4. TAnggungjawab – Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya.

Setelah melakukan coachcing hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberikan umpan balik dengan prinsip coaching antara lain:

1. Tujuan pemberian umpan balik adalah untuk membantu pengembangan diri coachee

2. Tanpa umpan balik, orang tidak akan mudah untuk berubah

3. Sesuai prinsip coaching, pemberian umpan balik tetap menjaga prinsip kemitraan

4. Selalu mulai dengan memahami pandangan/pendapat coachee

 

SUPERVISI AKADEMIK DENGAN MENGGUNAKAN PARADIGMA BERPIKIKR COACHING

Supervisi akademik merupakan serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memberikan dampak secara langsung pada guru dan kegiatan pembelajaran di kelas. Supervisi akademik perlu dimaknai secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yakni pembelajaran yang berpihak pada murid. Oleh karena itu, kegiatan supervisi akademik hanya memiliki sebuah tujuan yakni pemberdayaan dan pengembangan kompetensi diri dalam rangka peningkatan performa mengajar dan mencapai tujuan pembelajaran (Glickman, 2007, Daresh, 2001).

Dalam pelaksanaannya ada dua paradigma utama yang menjadi landasan kita menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yakni paradigma pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi setiap individu.

Pada umumnya pelaksanaan supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan supervisi, dan tindak lanjut. Pada tahap perencanaan, supervisor merumuskan tujuan, melihat pada kebutuhan pengembangan guru, memilih pendekatan, teknik, dan model, menetapkan jadwal, dan mempersiapkan ragam instrumen.

Salah satu bagian dalam tahapan pelaksanaan supervisi akademik adalah observasi pembelajaran di kelas atau yang biasanya kita sebut sebagai supervisi klinis. Istilah supervisi klinis ini diperkenalkan oleh Morris Cogan dari Harvard University. Dalam buku Supervision for a Better School, Lovell (1980) mendefinisikan supervisi klinis sebagai rangkaian kegiatan berpikir dan kegiatan praktik yang dirancang oleh guru dan supervisor dalam rangka meningkatkan performa pembelajaran guru di kelas dengan mengambil data dari peristiwa yang terjadi, menganalisis data yang didapat, merancang strategi untuk meningkatkan hasil belajar murid dengan terlebih dulu meningkatkan performa guru di kelas. Sebuah kegiatan supervisi klinis bercirikan:

  1. Interaksi yang bersifat kemitraan
  2. Sasaran supervisi berpusat pada strategi pembelajaran atau aspek pengajaran yang hendak dikembangkan oleh guru dan disepakati bersama antara guru dan supervisor
  3. Siklus supervisi klinis: pra-observasi, observasi kelas, dan pasca-observasi
  4. Instrumen observasi disesuaikan dengan kebutuhan
  5. Objektivitas dalam data observasi, analisis dan umpan balik
  6. Analisis dan interpretasi data observasi dilakukan bersama-sama melalui percakapan guru dan supervisor
  7. Menghasilkan rencana perbaikan pengembangan diri
  8. Merupakan kegiatan yang berkelanjutan

(Source : Modul CGP)

REFLEKSI DARI PEMBELAJARAN MODUL 2.3

Setelah mempelajari Modul 2.3 ini saya merasa senang sekali karena materi ini merupakan salah satu yang belum pernah saya pelajari sebelumnya, sehingga bisa menambah pengetahuan saya sebagai calon pemimpin pembelajaran di sekolah. Sebelumnya saya berpikir bahwa coaching itu dilakukan oleh seorang pelatih terhadap peserta pelatihannya sehingga bersifat Top Down, akan tetapi setelah mempelajarinya dan saya mencoba mempraktekan secara langsung terutama menggunakan konsep alur TIRTA dengan rekan CGP lain, pikiran saya jadi lebih terbuka dan juga membuat saya banyak sekali mendapatkan hal positif yang dapat menambah pengetahuan dan pengalaman saya terutama sebagai pemimpin pembelajaran. Akan tetapi dalam praktik yang sudah saya lakukan, ada beberapa hal yang harus terus saya tingkatkan yaitu kemampuan membuat pertanyaan yang berbobot, sehingga pertanyaan tersebut bisa mengoptimalkan coachee bisa berkembang dengan optimal.

Setelah mempelajari materi ini, saya juga mencoba melakukan coaching dengan rekan di sekolah, saya merasa tertantang bagaimana bisa menggali pengalaman dalam mengatasi masalah dan membuat pertanyaan berbobot yang dapat membangkitkan pengetahuan coachee. Saya juga berusaha menahan diri untuk tidak melakukan judgment, berasumsi, serta mengasosiasikan ketika coachee berpendapat. Pada proses ini saya merasa bahwa keterampilan sosial emosional (KSE) yang saya pelajari pada modul 2.2 sangat dibutuhkan. Saya dituntut mampu mengolah emosi, kesadaran diri, pengelolaan diri dan keterampilan berelasi perlu diterapkan ketika saya menjadi coach. Selain itu, dari modul yang saya pelajari ini saya dapat menemukan keterkaiatan yang erat antara materi tersebut dengan tanggung jawab saya sebagai pendidik yaitu :

Mengembangkan Rekan Sejawat – Dengan mempelajari modul ini saya coba aplikasikan dalam aktivitas di sekolah, sehingga kemampuan coaching saya bisa terus berkembang dan bisa bermanfaat untuk mengembangkan rekan sejawat. Saya bisa membantu rekan guru untuk mampu mengidentifikasi gaya belajar siswa, mengenali kekuatan dan kelemahan mereka, serta menyesuaikan metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi siswa yang beragam atau pembelajaran yang terdiferensiasi.

Meningkatkan Kinerja Murid – Dengan kemampuan coaching, KSE dan pembelajaran berdiferensiasi yang baik, saya dapat membantu murid dalam berkembang sesuai kodrat mereka. Siswa bisa meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran, sehingga kondisi ini sangat baik dalam mengembangkan kompetensi peserta didik di sekolah.

Dapat meningkatkan Kolaborasi – Selain itu, dengan memahami materi modul ini dapat meningkatkan kolaborasi saya dengan guru lain, karena kolaborasi merupakan elemen kunci dalam pengembangan kompetensi pemimpin pembelajaran. Sebagai Calon guru penggerak saya harus bisa menjadi pendorong kolaborasi antara guru, Staf dan siswa, agar bisa mencapai tujuan pembelajaran yang baik. Saya harus bisa membantu dalam membangun komunikasi dan kerja sama yang baik di SMPN 3 Saketi.

Dari beberapa hal yang saya dapatkan di atas, sebagai pendidik saya harus terus melakukan evaluasi diri sebagai upaya peningkatan kemampuan untuk menjadi lebih baik lagi, saya akan terus berusaha menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan dari modul ini yaitu tentang Pembelajaran berdiferensiasi, KSE dan Coaching agar pemahaman saya terhadap materi tersebut lebih baik lagi.

Selain itu, saya juga terus melakukan kolaborasi dengan rekan sejawat terutama Calon Guru Penggerak lain di sekolah, melalui diskusi ringan sebagai upaya sharing pengalaman dan pengetahuan sesama Calon Guru Penggerak.

KETERKAITAN COACHING DENGAN MODUL SEBELUMNYA PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DAN PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL (PSE)

Menurut Ki Hadjar Dewantara peran guru merupakan bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, salah satunya adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi ke dalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik. KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik.

Kegiatan untuk melatih menghadirkan penuh yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan kegiatan STOP dan Mindfulness yang telah dipelajari pada modul sebelumnya Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang lalu Penting diingat tidak ada satu cara yang terbaik untuk semuanya karena setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk dapat menghadirkan presence. Untuk itu temukan cara yang paling efektif untuk untuk kita agar bisa terus melatih diri dan menerapkannya sebelum dan selama melakukan percakapan coaching di sekolah. Selain itu, pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktik coaching sangat diperlukan, melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berpikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan dan kebahagiaan.

Dari pembelajaran yang sudah saya lalui, ketiga materi tersebut yaitu Coaching, PSE dan pembelajaran berdiferensiasi sangat berhubungan erat sekali, saling mengisi dan saling bersinergi agar bisa meningkatkan peran sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Selain itu juga kompetensi ini menunjang dalam menciptakan pembelajaran yang memerdekakan anak.

ANALISIS IMPLEMENTASI DALAM KONTEKS CALON GURU PENGGERAK

Sebagai calon guru pengerak tentunya harus mampu berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang siap mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada murid. Semua akan bisa terlaksana dengan baik apabila guru memiliki kemampuan untuk memberdayakan segala potensi dan kondrat yang ada, maka seorang guru membutuhkan keterampilan coaching sehingga guru mampu menjadi penuntun murid menuju kodrat terbaiknya dalam meraih kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Selain itu, salah satu peran guru penggerak adalah sebagai coach bagi guru lain. Sesuai dengan peran tersebut seorang guru penggerak harus mampu menjadi mitra bagi guru lainnya dalam menyelesaikan masalah. Seorang Guru penggerak juga mempunyai harus berperan sebagai pemimpin pembelajaran, dimana seorang pemimpin tentu harus mempunyai kemampuan untuk melakukan supervisi akademik untuk mengembangkan kemampuan guru. Untuk melakukan peran tersebut, tentunya seorang guru penggerak harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai Pembelajaran sosial emosional. Guru penggerak harus memiliki kesadaran diri serta kesadaran sosial yang baik ketika melakukan coaching. Harus mampu menahan diri dan keinginan untuk berkomentar yang menjudgment sang coachee. Intinya seorang Coach itu harus mampu menjadi pendengar setia ketika sang coachee sedang menyampaikan pemahamannya. Modul ini sangatlah menunjang untuk pelaksanaan Implementasi Kurikulum Merdeka. Dalam pelaksanaanya pasti akan menghadapi berbagai rintangan dan tantangan, mudah-mudahan dengan bekal pengetahuan yang saya dapatkan ini bisa mengoptimalkan segala usaha yang saya lakukan dalam mengimplementasikan semua konsep yang sudah saya pelajari dalam modul ini.

Terima Kasih,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *